Keluarga Berencana Menurut Pandangan Islam

KELUARGA BERENCANA

Pengertian Keluarga Berencana

Pertumbuhan penduduk setelah Perang Dunia Kedua sangat mengejutkan, laksana bom bagi dunia dan terutama di negara berkembang Asia, Afrika, Timor Tengah sehingga menimbulkan keadaan darurat bagi kehidupan bangsanya.

Sebenarnya pikiran untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk sudah timbul sejak lama diantaranya Plato (427-347) mengemukakan bahwa pranata .sosial dan pemerintahan sebaiknya direncanakan keseimbangan antara kebutuhan dan jumlah penduduknya. Ibnu Khaldun (1332-1407) telah membahas tentang kesuburan wanita, kematian ibu dan anak, masalah migrasi yang berkaitan dengan masalah sosial. Malthus (1766-1834) setelah jaman industri di Eropa, mengeluarkan sebuah buku an Easy on the principle of population (1798) yang prinsipnya menyatakan bahwa jangan terlalu banyak mengkhayal dengan kemampuan ilmu dan teknologi yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya, karena pertumbuhan penduduk laksana deret ukur (perkalian) sedangkan kemampuan alam dalam memenuhi kebutuhan manusia laksana deret hitung (pertambahan).

Pernyataan ini menunjukkan betapa terbatasnya sumber daya alam yang pada saatnya tidak akan dapat memenuhi kebutuhan manusia yang  pertumbuhannya sangat cepat itu. Dengan perkembangan teknologi dan industri, seolah-olah pendapat Malthus terbenar, sampai perang dunia kedua. Pertumbuhan penduduk setelah perang dunia kedua sangat cepat meningkat. Hal itu menyebabkan berbagai penemuan dalam bidang kesehatan diantaranya mengenai usia harapan hidup makin panjang, angka kematian ibu makin menurun, perawatan dan pelayanan terhadap bayi prematur. Hal-hal tersebut dapat menyelamatkan dari kematian, tetapi memperbesar bom perkawinan dan kelahiran yang makin meningkat.

Kesadaran dunia tentang bahaya pertumbuhan penduduk yang besar dan cepat telah mengundang pemimpin dunia untuk mempersoalkan penduduk dunia yang makin membahayakan, dunia semakin sempit pada hari hak asasi manusia 1967 dengan inti bahwa persoalan penduduk setiap negara merupakan masalah vital dalam kaitan dengan tujuan pembangunan untuk meningkatkan martabat manusia dalam arti luas.

Salah satu penandatanganan pernyataan tentang  kependudukan dunia tersebut adalah Presiden Soeharto. Pidato kenegaraan beliau telah ditampung dalam GBHN sebagai dasar penilaian terhadap pembangunan dan usaha mengendalikan pertumbuhan penduduk dan agar pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat harus dibarengi dengan pengaturan jumlah penduduk melalui program keluarga berencana yang mutlak harus berhasil, karena kegagalan pelaksanaan keluarga berencana, akan mengakibatkan hasil usaha pembangunan menjadi tidak berarti dan dapat membahayakan generasi yang akan datang.

Dengan berlandaskan mata rantai Pancasila, UUD 45 dan GBHN pelaksanaan program, kini Gerakan Keluarga Berencana ternyata mempunyai akar yang kuat.

Gerakan Keluarga Berencana

Gerakan keluarga berencana Indonesia telah menjadi contoh bagaimana negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia dapat mengendalikan dan menerima gerakan keluarga berencana sebagai salah satu bentuk ptuembangunan keluarga yang lebih dapat dikendalikan untuk mencapai kesejahteraan. Keluarga adalah unit terkecil kehidupan bangsa, yang sangat diharapkan dapat mengatur, mengendalikan masalah poleksosbudhamka (politik, ekonomi, sosial, budaya, ketahanan dan keamanan keluarga) yang secara berantai menuju yang lebih besar dan terakhir berskala nasional. Gambaran umum tentang keluarga yang dapat diterima masyarakat berpedoman pada Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) dan keluarga yang mempunyai fungsi sosial.

Pengertian keluarga berfungsi sosial, yang dimaksud di atas bukan keluarga yang kaya tidak pada tempatnya, mempunyai anak yang banyak karena kemampuannya, tetapi selalu berorientasi pada sila kelima Pancasila keadilan sosial bagi selulruh rakyat Indonesia. Dengan keadilan sosial dan melalui gerakan keluarga berencana Indonesia ingin mengurangi kemiskinan dengan uberbagai usaha, sosial-politik dan bantuan ekonomi sehingga masyarakat makin dapat menikmati arti keadilan sosial dengan meningkatkan keluarga sejahtera. Ketahuilah “kemiskinan” adalah malapetaka yang paling kejam bagi umat manusia, karena dalam keadaan miskin, keluarga tidak akan dapat berbuat banyak. Apalagi untuk ikut serta dalam pembangunan bangsa. Kemiskinan keluarga justru disebabkan oleh kehamilan dan kelahiran yang tidak terkendali. Kemiskinan keluarga dalam jumlah yang besar mencerminkan kemiskinan bangsa yang merupakan masalah besar dalam pembangunan.

Dalam skala keluarga berorientasi konsep caturwarga dengan dua anak merupakan konsep generasi pengganti dengan kualitas sumber daya manusia yang lebih mantap. Kiranya perlu diketahui bahwa dengan globalisasi yang dihadapi dan makin meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, maka investasi terhadap anak, makin diperlukan sehingga dapat bersaing dalam lingkungan bangsa dan antar bangsa.

Akibat kegagalan melaksanakan dan mengikuti gerakan keluarga berencana 

  • Pendidikan. Investasi pendidikan yang perlu dibangun semakin besar dan banyak. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan semakin sulit dan mahal.
  • Lapangan kerja. Semakin langka, karena orientasi pendidikan dan ketidakseimbangan dari usaha dalam menyediakan lapangan kerja. Pengangguran semakin bertambah apalagi tingkat sarjana, merupakan ancaman bagi keterlibatan dan keamanan lokal maupun nasional.
  • Masalah gizi dan pangan. Semakin mahal dan semakin langka sehingga Indonesia menjadi tempat berdagang bagi bangsa lain yang justru seharusnya tempat tumbuh kembangnya bahan makanan tropis. Kekurangan pangan dan kelaparan sudah tentu tidak dapat dihindari.
  • Memburuknya lalu lintas. Jalan yang dibangun tidak seimbang dengan pertumbuhan penduduk dan kendaraan sehingga menimbulkan gangguan lalu lintas di jalan. Situasi tergasa-gesa tidak mungkin dihindari sehingga banyak kecelakaan lalu lintas dengan kerugian jiwa dan harta benda yang tidak sedikit. Hidup serba tergesa-gesa menyebabkan sikap hati-hati kurang dan kurang menghargai benda milik orang lain.
  • Gangguan keamanan dan ketertiban. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali menyebabkan kemiskinan mental dan harta benda yang menyebabkan masyarakat cenderung menjadi brutal dan dapat menjadi gangguan keamanan dan ketertiban. Gangguan keamanan dan ketertiban tidak saja terjadi di kota besar yang mempunyai kehidupan keras tetapi dapat dapat meluas di daerah pedesaan. Gangguaan keamanan dan ketertiban tidak saja di dalam negeri bahkan dapat meluas menjadi ketegangan regional bahkan internasional.

Kehidupan keluarga berencana abad ke-21

Sekalipun belum terjadi aspek globalisasi yang sebenarnya, tetapi pengaruh hubungan antar bangsa dan arus informasi sudah melanda dunia dan terasa semakin sempit sehingga kebudayaanpun sudah saling meniru. Pengaruh emansipasi wanita yang menginginkan persamaan hak dan kewajiban dalam pembangunan dan keluarga menyebabkan kecenderungan untuk memiliki anak dengan jumlah kecil sudah menjadi kebutuhan. Sering terdengar di tengah masyarakat bahwa betapa sulitnya mempunyai anak banyak karena harus memberikan pendidikan yang cukup memadai sehingga kualitas makin tinggi.

Disamping itu untuk dapat memenuhi sendiri, diperlukan kerja keras kedua ibu-bapaknya sehingga anaknya malah terlantar, menjadi anak pembantu. Sempitnya waktu untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan anak merupakan kendala penting, sehingga kasih sayang orangtuanya dicerminkan pada kebendaan yang mampu diberikan sebagai fasilitas pengganti. Akibat dari itu semua, akan terdapat kesenjangan antara kepentingan orangtua yang sibuk mencari nafkah kebendaan dengan kepentingan anak yang memerlukan kasih sayang. Oleh karena itu, orangtua  sangat memerlukan bagaimana cara membagi waktu sehingga terdapat keseimbangan antara pencari penghidupan yang semakin sulit dengan bagaimana caranya memberikan kasih sayang kepada anak.

Situasi demikian sangat penting sehingga tumbuh kembang anak dapat mencapai sasaran yang diinginkan. Tetapi banyak diantara keluarga yang gagal dalam upaya menemukan keseimbangan tersebut, sehingga anak-anaknya mencari kepuasan di luar rumah dengan kelompok sebayanya, untuk melupakan segala sesuatu yang terjadi di rumah. Itulah yang menyebabkan banyak remaja terjerumus ke dalam pergaulan yang kurang sehat seperti mempergunakan obat terlarang, kebrutalan, untuk menarik perhatian, atau terjerumus ke dalam dunia hitam untuk memenuhi segala kebutuhannya. Keadaan ini akan banyak dijumpai bila menyaksikan kenyataan yang sebenarnya laksana gunung es yang hanya tampak ujungnya saja. Sering dikemukakan bahwa anak harus mengerti bagaimana sibuknya orang tua mencari nafkah untuknya, sehingga kita dapat sejahtera seperti sekarang ini. Di lain pihak anak mengeluh karena sulit sekali berhubungan dengan orangtuanya, karena kesibukan bisnisnya, sehingga kekurangan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga. Pernyataan demikian yang perlu didekatkan sehingga terjadi keseimbangan yang harmonis dalam keluarga.

Keluarga Berencana dalam Pandangan Islam

Jika program Keluarga Berencana (KB) dimaksudkan untuk membatasi kelahiran, maka hukumnya tidak boleh. Karena Islam tidak mengenal pembatasan kelahiran (tahdid an-nasl). Bahkan, terdapat banyak hadits yang mendorong umat Islam untuk memperbanyak anak. Misalnya: Tidak bolehnya membunuh anak apalagi karena takut miskin (QS. al-Isra’: 31), perintah menikahi perempuan yang subur dan banyak anak, penjelasan yang menyebutkan bahwa Rasulullah berbangga di Hari Kiamat dengan banyaknya pengikut beliau (HR. Nasa’i, Abu Dawud, dan Ahmad), dan sebagainya.

Yang dikenal dalam Islam adalah pengaturan kelahiran (tanzhim an-nasl). Hal ini didasarkan pada para sahabat yang melakukan azal di masa Nabi, dan beliau tidak melarang hal tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim). Azal adalah mengeluarkan sperma di luar rahim ketika terasa akan keluar.

Beberapa alasan yang membenarkan pengaturan kelahiran antara lain: pertama, kekhawatiran akan kehidupan dan kesehatan ibu jika ia hamil atau melahirkan, berdasarkan pengalaman atau keterangan dari dokter yang terpercaya. Firman Allah: “Dan janganlah kalian campakkan diri kalian dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195).

Kedua, khawatir akan kesulitan materi yang terkadang menyebabkan munculnya kesulitan dalam beragama, lalu menerima saja sesuatu yang haram dan melakukan hal-hal yang dilarang demi anak-anaknya. Allah berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan.” (QS. al-Baqarah: 185).

Ketiga, alasan kekhawatiran akan nasib anak-anaknya; kesehatannya buruk atau pendidikannya tidak teratasi (Lihat: Halal dan Haram dalam Islam, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Era Intermedia, hlm. 285-288). Alasan lainnya adalah agar bayi memperoleh susuan dengan baik dan cukup, dan dikhawatirkan kehadiran anak selanjutnya dalam waktu cepat membuat hak susuannya tidak terpenuhi.

Membatasi anak dengan alasan takut miskin atau tidak mampu memberikan nafkah bukanlah alasan yang dibenarkan. Sebab, itu mencerminkan kedangkalan akidah, minimnya tawakal dan keyakinan bahwa Allah Maha Memberi rezeki. Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian.” (QS. al-Isra: 31).

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!